DON’T BREATHE 2 (2021), Emang Boleh Segokil Itu. 1 juta/10 No Debat

Gua termasuk orang yang suka film dengan alur cerita simpel, tapi nggak gampang ditebak. Gua nggak harus nonton film yang punya cerita rumit atau plot twist di mana-mana buat bisa menikmati jalan ceritanya. Buat gua, selama filmnya bisa bikin penasaran dan gua terus bertanya-tanya tentang apa yang bakal terjadi selanjutnya, itu udah cukup buat bikin pengalaman nonton jadi seru.

Salah satu film yang cocok sama selera gua adalah Don’t Breathe 2 (2021). Gua udah nonton film ini dari lama, tapi gua masih ngerasa film ini menarik buat dibahas. Dari sekian banyak film thriller, ada beberapa hal dari film ini yang bikin gua suka, mulai dari karakter utamanya yang OP banget, jalan ceritanya, sampai adegan-adegannya yang brutalnya nggak main-main.


Gua Suka Alurnya yang Simpel, tapi Bikin Penasaran

Salah satu alasan gua suka Don’t Breathe 2 adalah ceritanya yang gampang diikutin. Film ini nggak terlalu banyak bertele-tele buat menjelaskan konfliknya. Gua bisa memahami apa yang sedang terjadi tanpa harus mikir terlalu keras buat menghubungkan setiap kejadian.

Ceritanya berfokus pada Norman Nordstrom, seorang pria tunanetra yang tinggal bersama seorang anak perempuan bernama Phoenix. Kehidupan mereka mulai berubah ketika sekelompok orang berniat menculik Phoenix, dan Norman berusaha menyelamatkannya.

Buat gua, konsep ceritanya cukup menarik. Walaupun konfliknya bisa dipahami dengan mudah, bukan berarti gua langsung bisa menebak semua yang bakal terjadi. Justru ada beberapa situasi yang bikin gua penasaran sama kelanjutannya.


Karakter Norman Bikin Filmnya Makin Menarik

Hal lain yang gua suka adalah karakter Norman Nordstrom yang diperankan oleh Stephen Lang. Jujur, karakter ini punya daya tarik tersendiri.

Norman memang tunanetra, tapi dia bukan karakter yang gampang dikalahkan. Dia bisa memanfaatkan pendengaran, insting, dan pengalamannya buat menghadapi orang-orang yang mengancamnya.

Yang bikin gua tertarik, Norman bukan karakter yang sepenuhnya bisa dianggap baik. Dia punya masa lalu yang kelam, dan tindakannya terkadang bikin gua mempertanyakan apakah yang dia lakukan benar-benar bisa dibenarkan.

Menurut gua, karakter seperti ini lebih menarik karena punya sisi yang nggak sederhana. Gua nggak cuma melihat apa yang dia lakukan, tetapi juga mencoba memahami alasan di balik tindakannya.

Akting Stephen Lang juga jadi salah satu hal yang gua apresiasi. Dia berhasil membuat Norman terlihat mengintimidasi tanpa harus banyak bicara. Dari ekspresi dan gerakannya aja, karakter ini udah punya kehadiran yang cukup kuat di layar.


Norman OP Banget, Penculiknya Dieliminasi Satu per Satu (Awowkwok puas liatnya)



Nah, ini salah satu bagian yang paling berkesan buat gua. Norman bukan tipe karakter yang cuma bisa kabur dan bersembunyi ketika menghadapi ancaman. Kalau situasinya mengharuskan dia bertarung, dia justru bisa menjadi sosok yang sangat berbahaya.

Bayangin aja, dia harus menghadapi sekelompok penculik yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada dirinya. Namun, Norman mampu mengeliminasi sekitar 7/8 orang dari kelompok tersebut. Gua sampai mikir, ini orang sebenarnya sekuat apa, dah? Aowwkwok.

Yang bikin makin gila, cara para penculik itu mati juga sadis banget. Mulai dari ditembak menggunakan pistol, sampai dihabisi dengan memanfaatkan perkakas rumah tangga yang ada di sekitarnya. Benda-benda yang biasanya kita anggap biasa aja di rumah bisa berubah menjadi alat yang mematikan dalam situasi seperti ini.

Gua suka bagaimana Norman memanfaatkan lingkungan di sekitarnya buat bertahan hidup. Dia nggak selalu mengandalkan senjata api, tetapi juga menggunakan insting, pendengaran, dan pengalamannya buat mencari celah ketika menghadapi lawan.

Hal ini bikin adegan pertarungannya terasa intens. Gua jadi penasaran bagaimana Norman bakal menghadapi lawan berikutnya, apalagi ketika dia berada dalam situasi yang kelihatannya sulit buat dimenangkan.

Memang, kalau dipikir secara realistis, kemampuan Norman menghadapi begitu banyak orang bisa terasa agak berlebihan. Ada beberapa momen yang bikin gua merasa dia seperti karakter dengan cheat aktif. Udah tunanetra, lawannya banyak, situasinya berbahaya, tapi masih bisa melawan dengan cara yang segila itu.

Tapi, jujur aja, justru kegilaan itulah yang bikin adegan aksinya menghibur buat gua. Gua nggak cuma penasaran sama nasib Phoenix, tetapi juga ingin melihat sejauh apa Norman bisa bertahan dan bagaimana dia menghadapi orang-orang yang mengancamnya.

Buat gua, Norman adalah contoh karakter yang kelihatannya punya kelemahan besar, tetapi ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan lawan-lawannya. Para penculik itu mungkin mengira mereka sedang memburu target yang mudah dikalahkan, tetapi pada akhirnya mereka justru berhadapan dengan orang yang salah.

Kesimpulannya, jangan pernah meremehkan Norman cuma karena dia tunanetra. 💀


Adegan Brutalnya Jadi Nilai Tambah

Selain karakter Norman yang OP, gua juga suka film ini karena berani menampilkan adegan aksi yang intens dan brutal.

Ada beberapa pertarungan yang terasa sangat sadis dan bikin suasana filmnya makin tegang. Film ini nggak cuma mengandalkan adegan kejar-kejaran atau karakter yang saling mengancam, tetapi juga memperlihatkan pertarungan yang membuat gua penasaran dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Gua juga suka bagaimana suara dan keadaan di sekitar karakter dimanfaatkan buat membangun ketegangan. Karena Norman tunanetra, suara menjadi salah satu elemen penting dalam cara dia memahami situasi. Hal-hal kecil yang mungkin nggak terlalu diperhatikan karakter lain bisa menjadi petunjuk penting buat dirinya.

Menurut gua, pendekatan ini membuat beberapa adegan terasa lebih menarik. Situasi yang awalnya terlihat tenang bisa berubah menjadi berbahaya dalam waktu singkat.

Dan ketika pertarungan mulai terjadi, film ini benar-benar menunjukkan sisi brutalnya. Gua nggak akan bilang semua adegannya realistis, tetapi sebagai hiburan, bagian ini berhasil membuat filmnya terasa intens.

Buat gua yang suka film thriller dengan aksi brutal, bagian ini jelas menjadi nilai tambah. Apalagi ketika Norman mulai membalikkan keadaan dan para penculik yang awalnya terlihat mengancam justru satu per satu menjadi korbannya.


Kelebihan Film Ini Menurut Gua

Kalau gua harus menyebutkan beberapa kelebihan Don’t Breathe 2, yang pertama jelas ada di alur ceritanya. Gua suka karena ceritanya gampang dipahami, tapi masih punya cukup banyak hal yang bikin penasaran.

Kedua, karakter Norman punya keunikan tersendiri. Kondisinya sebagai seorang tunanetra memberikan pendekatan berbeda dalam adegan-adegan berbahaya. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang kompleks, gua ngerasa karakter ini punya daya tarik yang nggak mudah dilupakan.

Ketiga, Norman OP banget! Gua menikmati bagaimana dia menghadapi banyak penculik dengan memanfaatkan kemampuan dan keadaan di sekitarnya. Walaupun beberapa aksinya terasa berlebihan, hal itu justru menjadi bagian yang membuat pertarungannya menghibur buat gua.

Keempat, adegan aksinya cukup brutal. Mulai dari baku tembak sampai penggunaan benda-benda di sekitar sebagai senjata, film ini memberikan banyak momen yang intens.

Terakhir, film ini berhasil memberikan hiburan tanpa harus membuat ceritanya terlalu rumit. Gua bisa menikmati jalan ceritanya sambil tetap penasaran sama apa yang bakal terjadi berikutnya.


Tapi, Bukan Berarti Filmnya Sempurna

Walaupun gua suka, ada beberapa hal yang menurut gua masih bisa diperbaiki.

Salah satunya adalah beberapa kejadian yang terasa agak berlebihan. Ada momen ketika gua merasa situasinya terlalu ekstrem, sampai muncul pikiran, kok bisa begitu? Memang ini film fiksi, tapi menurut gua beberapa bagian bisa dibuat lebih masuk akal.

Kemampuan Norman menghadapi begitu banyak lawan juga terkadang terasa terlalu OP. Di satu sisi, hal ini membuat adegan aksinya seru. Namun, di sisi lain, ada beberapa situasi yang membuat gua bertanya-tanya bagaimana dia bisa bertahan sejauh itu.

Selain itu, kalau dibandingkan dengan film pertamanya, Don’t Breathe 2 terasa lebih berfokus pada aksi. Film pertama lebih mengandalkan suasana sempit dan ketegangan psikologis, sedangkan film kedua lebih banyak menghadirkan pertarungan dan konflik dalam skala yang lebih besar.

Gua nggak bilang perubahan ini buruk, karena semuanya kembali ke selera masing-masing. Cuma, kalau gua lagi pengen nonton thriller yang lebih mengandalkan suasana mencekam daripada aksi, mungkin film pertamanya bakal lebih cocok.

Menurut gua, pengembangan beberapa bagian cerita juga masih bisa dibuat lebih kuat. Ada konflik yang sebenarnya berpotensi menarik kalau dibahas lebih dalam. Tapi, kekurangan ini nggak sampai membuat gua kehilangan minat buat mengikuti ceritanya.


Kalau Dibandingkan dengan Film Pertamanya?

Kalau ditanya mana yang lebih gua suka, menurut gua keduanya punya kelebihan masing-masing.

Gua melihat film pertama lebih unggul dalam membangun suasana yang bikin nggak nyaman. Konsepnya sederhana, tapi situasinya terasa menekan karena para karakter harus menghadapi ancaman di tempat yang terbatas.

Sementara itu, film kedua terasa lebih berfokus pada aksi dan usaha Norman buat menyelamatkan Phoenix. Kalau film pertama lebih mengandalkan ketegangan psikologis, film kedua terasa lebih seperti pertarungan bertahan hidup dengan aksi yang lebih brutal.

Kalau gua lagi pengen menikmati ketegangan psikologis, film pertama punya daya tarik yang lebih kuat. Tapi kalau gua pengen melihat lebih banyak aksi brutal dengan karakter Norman yang OP, film kedua juga nggak kalah menarik.

Jadi, buat gua, keduanya punya alasan masing-masing buat ditonton. Gua nggak merasa harus memilih salah satu sebagai yang terbaik secara mutlak.


Kesimpulan: Ini Sih 1 Juta/10!

Kalau gua pikir-pikir, alasan utama gua suka Don’t Breathe 2 sebenarnya sederhana. Gua suka alurnya yang nggak ribet, tapi nggak gampang ditebak. Gua juga suka karakter Norman yang unik, apalagi dengan kemampuannya menghadapi para penculik yang bikin gua geleng-geleng kepala.

Adegan aksinya juga menjadi nilai tambah tersendiri. Norman yang berhasil mengeliminasi sekitar tujuh sampai delapan penculik, ditambah cara para penculik itu mati dengan brutal, membuat film ini terasa intens sekaligus menghibur buat gua.

Memang ada beberapa kekurangan, terutama di bagian cerita yang terasa berlebihan dan perubahan nuansa dibandingkan film pertamanya. Tapi, buat gua, kekurangan itu nggak sampai menghilangkan keseruan film ini.

Kalau disuruh kasih rating, gua kasih 1 juta/10! Wkwkwk. Jelas ini bukan penilaian objektif, dan gua juga nggak menganggap film ini sempurna. Gua cuma pengen menggambarkan betapa cocoknya film ini sama selera gua.

Pada akhirnya, gua sadar kalau setiap orang punya selera film yang berbeda. Ada film yang menurut orang lain biasa aja, tapi justru bisa meninggalkan kesan buat gua.

Dan buat Don’t Breathe 2, gua bisa bilang kalau film ini berhasil memberikan pengalaman menonton yang gua suka. Ceritanya simpel, karakternya menarik, Norman-nya OP parah, dan adegan brutalnya cukup buat bikin gua menikmati film ini.

Kalau lu punya selera yang mirip sama gua, mungkin film ini juga bakal cocok buat lu. Tapi kalau udah pernah nonton, gua penasaran, kalian lebih suka film pertamanya atau sekuelnya?

BTW, DON’T BREATHE 3 LAGI ON PROGRESS DONG?! Gua nggak sabar parah pengen nonton, mwehehe. Semoga Norman balik lagi dengan aksi yang nggak kalah gila. 🔥💀

Write a comment