YUDA MUKTI BLOG
News Update
Loading...

Tuesday, July 1, 2025

Kenapa Banyak Orang Dewasa Masih Nonton Anime?

Kenapa Banyak Orang Dewasa Masih Nonton Anime?

Kalau kamu berpikir anime itu cuma tontonan anak-anak, kayaknya kamu perlu duduk sebentar sambil baca artikel ini sampai habis. Karena faktanya, banyak banget orang dewasa dari usia 20-an, 30-an, bahkan 40-an ke atas yang masih rajin nonton anime. Nggak cuma sekali-sekali lho, kadang mereka ngikutin anime mingguan dengan sabar, bahkan rela begadang demi episode terbaru.

Ada yang selalu semangat nungguin update One Piece meskipun sudah berjalan lebih dari seribu episode. Ada juga yang menyiapkan akhir pekan khusus buat maraton anime seasonal terbaru. Uniknya, mereka sama sekali nggak merasa malu atau kekanak-kanakan karena menonton anime sudah jadi bagian dari hidup mereka. Kalau kamu lagi cari ulasan lengkap dan rekomendasi anime terbaik, kamu bisa cek langsung di website animeid yang membahas tentang ulasan dan rekomendasi anime.


Nah, sebenarnya kenapa sih anime bisa bikin orang dewasa betah nonton sampai sekarang? Yuk, kita kupas satu per satu alasannya di artikel ini.



1. Ceritanya Nggak Cuma Buat Anak-Anak


Pertama, yang perlu dipahami: anime itu genre, bukan hanya “kartun anak-anak”. Anime punya cerita yang luas, dari komedi, slice of life, action, thriller, sampai horor psikologis. Coba deh nonton anime kayak Attack on Titan atau Death Note, dijamin anak SD nggak bakal ngerti sepenuhnya karena alurnya kompleks dan temanya gelap.


Anime sering mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan orang dewasa. Misalnya tentang dilema pekerjaan, impian yang pupus, atau perasaan terjebak dalam rutinitas. Contohnya di anime Aggretsuko, yang bercerita tentang pegawai kantoran yang stres sama bos dan rekan kerjanya. Siapa coba yang relate kalau bukan kita-kita yang sudah hidup di dunia kerja?



2. Visual dan Musik yang Bikin Nagih


Anime punya gaya visual yang khas dan memanjakan mata. Warna-warnanya cerah, desain karakternya menarik, dan banyak studio yang berani bereksperimen dengan animasi keren. Contohnya Demon Slayer yang bikin banyak orang dewasa terpukau sama kualitas animasinya, terutama di episode pertarungan melawan Rui di season 1.


Selain itu, musik di anime juga nggak kalah keren. Lagu opening dan ending sering bikin orang dewasa nostalgia atau semangat menjalani hari. Bahkan, ada yang playlist gym-nya diisi lagu anime biar makin terbakar semangatnya.



3. Nostalgia Masa Kecil


Banyak orang dewasa sekarang tumbuh bareng anime. Zaman dulu, kita pulang sekolah langsung nungguin Naruto, Dragon Ball, One Piece, atau Captain Tsubasa tayang di TV. Jadi ketika sekarang mereka menonton anime baru atau melanjutkan anime lama, ada perasaan nostalgia yang bikin hati hangat. Rasanya seperti mengunjungi sahabat lama yang dulu selalu menemani hari-hari kita.



4. Pelarian dari Dunia Nyata


Hidup orang dewasa itu penuh tekanan – kerjaan numpuk, tagihan datang terus, masalah cinta nggak ada habisnya. Nonton anime jadi semacam pelarian yang aman dan menyenangkan. Di anime, kita bisa sejenak lupa sama kenyataan dan ikut larut dalam dunia fantasi. Entah itu dunia ninja, dunia sihir, atau dunia isekai di mana karakternya tiba-tiba jadi overpower.


Pelarian ini bukan berarti lari dari tanggung jawab, tapi memberi jeda buat otak dan hati. Setelahnya, kita bisa balik lagi ke dunia nyata dengan energi baru.



5. Mengajarkan Banyak Nilai Kehidupan


Anime nggak jarang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang relatable untuk semua usia. Contohnya semangat pantang menyerah ala Naruto, pentingnya kerja sama tim di Haikyuu!!, atau bagaimana berdamai dengan masa lalu di Violet Evergarden.


Anime juga banyak menyajikan pesan moral secara lebih halus dan menyentuh. Penonton dewasa bisa memaknai pesan itu lebih dalam karena sudah punya banyak pengalaman hidup.



6. Karakter yang Membekas di Hati


Karakter anime biasanya dibuat dengan kepribadian yang kuat dan latar belakang yang jelas, bikin penonton merasa terhubung. Orang dewasa suka karakter dengan motivasi realistis dan perkembangan karakter yang baik.


Misalnya Eren Yeager di Attack on Titan yang mengalami transformasi besar dari anak polos menjadi sosok yang kontroversial. Atau Itachi Uchiha di Naruto, karakter tragic hero yang sampai sekarang masih sering dibahas di forum anime. Karakter-karakter seperti ini bikin anime terasa lebih hidup.



7. Komunitas Anime yang Solid


Orang dewasa yang suka anime juga punya komunitasnya sendiri. Entah itu di Reddit, Twitter, Discord, atau grup Facebook. Mereka bisa diskusi teori, berbagi fan art, atau sekadar ngobrol tentang episode terbaru. Punya teman yang satu hobi bikin pengalaman nonton anime jadi lebih seru dan nggak terasa sendiri.



8. Anime Itu Seni


Banyak penonton dewasa yang menonton anime bukan hanya karena ceritanya, tapi juga menghargai proses pembuatannya. Mereka kagum dengan kerja keras para animator, penulis cerita, dan komposer musiknya. Bahkan ada yang menganggap anime adalah bentuk seni modern Jepang yang berhasil menembus batas budaya dan bahasa.



Jadi, Kenapa Masih Banyak Orang Dewasa Nonton Anime?


Karena anime bukan sekadar tontonan anak-anak. Anime adalah hiburan dengan cerita kompleks, visual keren, musik yang membekas, dan pesan hidup yang dalam. Ia menawarkan dunia baru untuk dijelajahi, karakter-karakter yang menginspirasi, sekaligus nostalgia masa kecil yang bikin hati hangat.


Dan tahu nggak? Nggak ada yang salah dengan itu. Karena setiap orang punya cara sendiri untuk recharge setelah hari yang melelahkan. Kalau nonton anime bisa bikin kamu bahagia dan semangat lagi, kenapa nggak?


Thursday, June 26, 2025

Lebih Brutal, Lebih Gelap: Ini yang Beda dari Don't Breathe 2

Lebih Brutal, Lebih Gelap: Ini yang Beda dari Don't Breathe 2

Kalau kamu pernah nonton film Don't Breathe pertama, pasti masih ingat betapa tegangnya suasana saat para remaja mencoba merampok rumah seorang kakek buta dan ternyata, si kakek ini jauh dari kata "korban". Nah, di sekuel keduanya yang berjudul Don't Breathe 2, cerita jadi jauh lebih gelap, brutal, dan penuh kejutan. Tapi kali ini, alurnya agak beda dan bikin penonton bingung: siapa sih sebenarnya tokoh utamanya? Siapa yang jahat? Siapa yang harus kita dukung? Kalau kamu penasaran sama review lengkap dan rekomendasi film seru lainnya, langsung aja cek website Ngefilm yang membahas ulasan film buat dapetin referensi tontonan yang gak bakal bikin bosan!

Yuk, kita bahas lebih dalam tentang apa aja yang bikin Don't Breathe 2 terasa beda dari film pertamanya!



1. Dari Villain Jadi Anti-Hero?


Di film pertama, Norman Nordstrom (diperankan Stephen Lang) jelas digambarkan sebagai sosok menyeramkan. Seorang pensiunan veteran buta yang tinggal sendirian, tapi punya rahasia kelam di basement rumahnya. Penonton dibuat bersimpati dengan para perampok di awal, tapi ending-nya plot twist banget: ternyata si kakek ini punya sisi gelap yang luar biasa disturbing.


Tapi di Don't Breathe 2, kita malah diajak ngikutin kisah si Norman dari awal. Dia hidup bersama seorang gadis kecil bernama Phoenix, dan mencoba jadi ayah yang baik. Di sini, filmnya seperti ingin membuat penonton simpati kepada Norman. Tapi... tunggu dulu, ini orang yang sama yang nyekap perempuan di ruang bawah tanah, kan?


Inilah yang bikin film ini menarik dan juga kontroversial. Karakter Norman bukan berubah jadi “baik-baik saja”, tapi lebih seperti anti-hero. Kita nggak disuruh sepenuhnya membenarkan masa lalunya, tapi film ini pengen ngasih tahu: bahkan orang paling kelam pun bisa berubah atau setidaknya mencoba.



2. Lebih Brutal dari Film Pertama


Kalau kamu pikir Don't Breathe pertama udah cukup sadis, kamu mungkin bakal kaget nonton yang kedua. Don't Breathe 2 nggak tanggung-tanggung dalam menampilkan kekerasan fisik yang intens dan grafis. Serius, ada beberapa adegan yang bikin pengen tutup mata karena terlalu brutal.


Bedanya, di film kedua ini Norman lebih aktif dalam "memburu" musuh. Kalau sebelumnya dia bertahan di rumah dari para perampok, sekarang dia lebih seperti mesin pembunuh diam-diam yang siap menyerang siapa aja yang mengganggu hidupnya. Dan cara dia melakukannya? Gak kalah kreatif, sekaligus mengerikan.


Film ini benar-benar menekankan insting bertahan hidup si Norman dan kemampuannya membalikkan keadaan meski kondisi fisiknya terbatas. Di satu sisi, kita dibuat kagum sama kecerdasannya. Tapi di sisi lain, kita juga diingatkan kalau dia tetap orang yang berbahaya.



3. Fokus Cerita yang Berbeda


Salah satu hal yang bikin Don't Breathe 2 terasa beda adalah fokus ceritanya. Kalau di film pertama ceritanya sederhana: perampokan yang salah sasaran. Tapi di film kedua, ceritanya lebih luas dan kompleks. Fokusnya bukan lagi tentang mempertahankan rumah, tapi lebih ke hubungan antara Norman dan Phoenix, serta misteri tentang asal-usul si anak ini.


Kita diperlihatkan sisi emosional Norman yang berusaha menjadi ayah. Dia ngajarin Phoenix cara bertahan hidup, melindungi diri, dan bahkan homeschooling. Tapi tentu saja, masa lalunya gak pernah benar-benar hilang. Ketika orang-orang dari masa lalu Phoenix muncul dan ingin mengambilnya, semua jadi kacau.


Cerita ini membawa nuansa yang lebih personal dan emosional, meski tetap dibalut dengan kekerasan dan ketegangan khas thriller. Beberapa penonton mungkin merasa plot-nya agak memaksa, tapi setidaknya film ini mencoba membawa sesuatu yang baru.



4. Siapa yang Benar, Siapa yang Salah?


Satu hal yang bikin Don't Breathe 2 menarik tapi juga bikin galau adalah... kita bingung harus dukung siapa. Norman jelas punya masa lalu kelam. Tapi kelompok yang datang menculik Phoenix juga bukan orang baik-baik. Mereka kejam, penuh dendam, dan punya agenda sendiri.


Jadilah penonton seperti di tengah-tengah. Di satu sisi, kita tahu Norman bukan orang suci. Tapi di sisi lain, kita gak pengen Phoenix jatuh ke tangan yang lebih jahat. Film ini seperti bermain-main dengan moral abu-abu. Tidak ada pahlawan sejati di sini. Yang ada hanyalah manusia-manusia rusak dengan pilihan yang salah dan niat yang kadang setengah benar.


Kalau kamu suka film yang bikin mikir dan mempertanyakan sisi moral karakter, Don't Breathe 2 cukup berhasil di bagian ini.



5. Kesan Kelam yang Lebih Mendalam


Dari sisi tone, film ini lebih gelap—baik secara visual maupun narasi. Setting-nya terasa lebih suram, cuaca mendung, pencahayaan minim, dan banyak adegan berlangsung di lorong-lorong gelap atau tempat kumuh. Semua itu memperkuat kesan bahwa dunia di sekitar karakter-karakter ini udah rusak.


Kesan kelam juga datang dari tema ceritanya: penculikan, eksperimen, kekerasan dalam keluarga, dan trauma masa lalu. Film ini gak mencoba jadi horror dengan jumpscare semata, tapi lebih ke psychological thriller yang bikin kita gak nyaman sepanjang film.


Jadi, Worth It Ditonton?


Jawabannya: tergantung selera kamu. Kalau kamu suka film thriller yang brutal, penuh ketegangan, dan tokohnya abu-abu secara moral, Don't Breathe 2 bisa jadi tontonan yang menarik. Tapi kalau kamu berharap sekuel ini akan memberi penebusan penuh untuk karakter Norman atau ending yang “aman dan nyaman”, siap-siap kecewa.


Film ini berani mengambil risiko dengan membalik peran karakter dan membiarkan penonton menilai sendiri siapa yang pantas mendapat simpati. Meskipun dari sisi logika beberapa plot twist-nya terasa agak dipaksakan, tapi Don't Breathe 2 tetap punya kekuatan di intensitas adegan dan karakter yang kompleks.



Kesimpulan


Don't Breathe 2 bukan sekuel yang “aman”. Film ini justru keluar dari pakem cerita sebelumnya, membawa karakter utama ke arah yang gak terduga, dan menyajikan aksi yang lebih brutal serta cerita yang lebih kelam. Mungkin gak semua orang suka pendekatan ini, tapi gak bisa dipungkiri film ini tetap berhasil bikin penonton terpaku di kursi, deg-degan, dan bertanya-tanya: apa yang akan terjadi selanjutnya?


Kalau kamu siap dengan thriller yang lebih emosional dan penuh kekerasan, Don't Breathe 2 layak masuk daftar tontonan kamu.


Friday, June 20, 2025

Kenapa Anime Bisa Bikin Kamu Jatuh Cinta Sama Budaya Jepang?

Kenapa Anime Bisa Bikin Kamu Jatuh Cinta Sama Budaya Jepang?

Siapa di sini yang awalnya cuma iseng nonton satu dua episode anime, eh... lama-lama malah jadi penasaran sama segala hal tentang Jepang? Tenang, kamu nggak sendiri! Banyak banget orang yang akhirnya jatuh cinta sama budaya Jepang gara-gara anime. Mulai dari makanannya, bahasanya, sampai festivalnya yang unik-unik, semua bisa bikin kita kepincut. Kamu bisa baca lebih banyak soal budaya Jepang dan rekomendasi anime menarik di website wibuku.id yang membahas berita terbaru seputar anime dan budaya Jepang 

Nah, di artikel ini kita bakal kupas tuntas kenapa anime bisa jadi “pintu gerbang” yang bikin banyak orang jatuh hati sama Jepang. Siap? Yuk kita mulai!



1. Anime Itu Bukan Sekadar Hiburan – Tapi Pengantar Budaya


Anime bukan cuma cerita seru dengan gambar yang kece, tapi juga sering nyelipin unsur budaya Jepang secara halus (kadang malah gamblang banget!). Misalnya:


  • Makanan Jepang: Coba hitung berapa kali kamu lihat ramen, onigiri, atau bento muncul di anime favoritmu. Bahkan gara-gara anime Naruto, mie ramen bisa jadi terkenal di seluruh dunia!
  • Upacara Minum Teh & Kimono: Di anime slice of life atau historical, sering banget ada adegan upacara minum teh, festival musim panas pakai yukata, atau perayaan tahun baru di kuil.
  • Tradisi Sekolah: Budaya sekolah di Jepang juga jadi salah satu highlight. Mulai dari seragam khas, klub ekskul, festival sekolah, sampai momen-momen liburan musim panas yang khas banget Jepang.


Tanpa kita sadari, kita jadi tahu banyak hal tentang Jepang hanya dari menonton anime!



2. Cerita yang Relate tapi Tetap “Jepang Banget”


Salah satu daya tarik anime adalah ceritanya yang sering nyentuh sisi emosional kita. Walaupun setting-nya di Jepang, tapi tema-temanya universal: persahabatan, perjuangan, cinta pertama, keluarga, sampai kehilangan.


Tapi walaupun relate, suasananya tetap khas Jepang dari cara tokohnya manggil satu sama lain (kayak *-san, *-kun, *-chan), cara mereka hormat ke guru, sampai gaya hidup sehari-hari. Kita jadi penasaran, “Oh, gitu ya kehidupan orang Jepang sehari-hari?”



3. Musik dan Bahasa Jepang yang Nempel di Kepala


Siapa sih yang gak pernah nyanyi “Blue Bird” dari Naruto atau “Unravel” dari Tokyo Ghoul walau nggak tahu artinya 100%? Lagu-lagu anime alias anime OST itu punya daya magis yang bisa bikin kita auto nyari artinya, bahkan belajar bahasa Jepang!


Banyak banget orang yang mulai tertarik belajar bahasa Jepang gara-gara pengen ngerti anime tanpa subtitle. Belum lagi ekspresi khas kayak:


“Itadakimasu!” sebelum makan

“Yatta!” waktu senang

“Baka!” waktu kesal (ups ðŸ˜…)


Lama-lama kita jadi kebawa pakai juga dalam kehidupan sehari-hari, padahal belum pernah ke Jepang sekalipun!



4. Jepang Tuh Terlihat “Deket” Karena Anime


Anime bikin Jepang yang jauh di sana terasa lebih “dekat”. Kita jadi tahu kota-kota kayak Tokyo, Kyoto, Osaka, bahkan tempat kecil seperti Akihabara yang dikenal sebagai surganya wibu dan otaku. Banyak anime juga menggambarkan tempat nyata yang bisa dikunjungi.


Makanya nggak heran, banyak fans anime yang akhirnya menjadikan Jepang sebagai destinasi impian. Bahkan ada istilah “anime pilgrimage” di mana fans mengunjungi lokasi-lokasi yang jadi inspirasi setting anime. Keren, kan?



5. Budaya Jepang yang Unik dan Penuh Nilai


Lewat anime, kita juga belajar kalau budaya Jepang itu penuh nilai seperti:


  • Kerja keras dan pantang menyerah – Coba lihat tokoh macam Naruto, Midoriya (My Hero Academia), atau Tanjiro (Demon Slayer) yang nggak gampang nyerah meski hidupnya susah.
  • Rasa hormat dan sopan santun – Anak-anak Jepang di anime selalu membungkuk kalau menyapa atau minta maaf. Bahkan ke teman sebaya!
  • Kehidupan seimbang antara tradisi dan modernitas – Kita bisa lihat kuil kuno berdiri berdampingan sama gedung pencakar langit. Tradisi dijaga tapi teknologi juga nggak ketinggalan.


Semua itu bikin kita kagum sama cara orang Jepang menjaga budaya mereka, dan secara nggak langsung kita jadi ikutan menghargai.



6. Festival dan Musim yang Bikin Penasaran


Musim gugur dengan daun-daun merah (momiji), musim semi dengan bunga sakura, musim panas dengan kembang api dan yukata... semuanya digambarkan dengan indah di anime. Kita jadi pengen merasakan sendiri vibe-nya!


Belum lagi festival seperti:


  • Tanabata – Festival permohonan yang muncul di banyak anime romance
  • Obon – Festival menghormati arwah leluhur
  • Matsuri musim panas – Lengkap dengan yatai (kedai makanan), permainan tradisional, dan suara taiko


Atmosfer seperti itu bikin kita merasa, “Wah, seru banget ya hidup di Jepang!”



7. Komunitas Pecinta Anime yang Aktif Banget


Jatuh cinta sama anime sering kali membawa kita ke komunitas yang lebih luas baik online maupun offline. Kita bisa ngobrol tentang anime kesukaan, tukeran rekomendasi, bahkan ikutan cosplay atau event Jepang. Komunitas ini juga sering bahas budaya Jepang dari berbagai sisi, bukan cuma anime doang.


Dari situ, ketertarikan kita terhadap Jepang makin meluas: ke dorama, J-pop, makanan Jepang, bahkan sejarah dan kebiasaan sosial di sana.



8. Dari Anime ke Gaya Hidup


Gara-gara anime, banyak orang jadi mengadopsi gaya hidup ala Jepang:


  • Makan ramen, sushi, atau takoyaki jadi kebiasaan
  • Belajar merangkai bento
  • Nulis jurnal dengan gaya “bullet journal” ala Jepang
  • Nonton dorama atau variety show Jepang
  • Belajar kaligrafi Jepang (shodo) atau seni lipat kertas (origami)


Anime udah bukan cuma tontonan, tapi inspirasi buat gaya hidup!



Penutup: Anime = Gerbang Budaya yang Seru dan Menyenangkan


Kalau dipikir-pikir, anime itu semacam “duta budaya” yang ampuh banget. Lewat cerita dan gambar yang menarik, kita bukan cuma terhibur, tapi juga belajar banyak tentang Jepang. Dari hal sederhana kayak makanan dan bahasa, sampai hal besar seperti nilai hidup dan filosofi orang Jepang.


Jadi kalau ada yang bilang suka anime itu kekanak-kanakan, kasih tahu aja: “Eh, dari anime gue belajar budaya Jepang, lho!” ðŸ˜„


Kalau kamu juga ngerasa anime bikin kamu jatuh cinta sama Jepang, yuk bagikan anime apa yang pertama kali bikin kamu tertarik sama negeri sakura ini. Siapa tahu bisa jadi rekomendasi buat orang lain juga!


Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done