Pengalaman Suntik Keloid Bandel

Injeksi Keloid

Nama saya Yuda, umur 19 tahun, asal Lampung.

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman tentang keloid yang pernah saya alami. Awalnya, tangan saya pernah terkena luka bakar. Untungnya lukanya tidak terlalu parah, jadi waktu itu saya tidak melakukan perawatan khusus apa pun. Saya hanya membiarkannya sampai kering dan sembuh dengan sendirinya.


Namun setelah luka tersebut mengering, saya mulai menyadari ada yang berbeda. Warna kulit pada bekas luka terlihat tidak sama dengan warna kulit di sekitarnya. Tidak hanya itu, lama-kelamaan bagian bekas luka tersebut juga terasa semakin tebal dan sedikit keras.

Saat ibu saya melihat kondisi bekas luka itu, beliau langsung berkata, "Ini keloid."


Jujur saja, saat itu saya sama sekali tidak tahu apa itu keloid. Karena penasaran, saya langsung mencari informasi di Google. Setelah membaca berbagai artikel kesehatan, saya mulai memahami bahwa keloid sebenarnya bukanlah penyakit. Keloid adalah jaringan parut yang tumbuh melebihi batas normal luka. Karena itulah, ukurannya bisa terus bertambah seiring waktu.


Dari hasil membaca berbagai artikel tersebut, saya juga baru mengetahui bahwa keloid bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Artinya, orang tua yang memiliki kecenderungan mengalami keloid dapat mewariskan kondisi tersebut kepada anak-anaknya.



Banyak artikel kesehatan menyarankan agar penderita keloid menghindari gesekan pada area keloid, termasuk gesekan dari pakaian. Namun saya merasa hal itu cukup sulit dilakukan karena keloid yang saya miliki berada di pergelangan tangan kanan, area yang hampir selalu bergesekan dengan pakaian atau benda lain saat beraktivitas.


Awalnya saya menganggap keloid ini sebagai sesuatu yang biasa dan tidak berbahaya. Saya juga masih merasa nyaman sehingga tidak terlalu memikirkannya. Karena itu, saya memilih untuk membiarkannya begitu saja.

Beberapa bulan kemudian, saya mulai memperhatikan bahwa keloid tersebut semakin menonjol. Meski ukurannya perlahan bertambah besar, saya masih belum merasa terganggu.


Namun seiring berjalannya waktu, kondisinya mulai berubah. Keloid saya mulai terasa gatal, ukurannya semakin besar hingga kira-kira selebar kelereng, dan rasa tidak nyaman mulai muncul. Pada saat itulah saya mulai khawatir.


Akhirnya saya kembali mencari informasi di Google tentang cara menghilangkan keloid. Dari hasil pencarian tersebut, saya menemukan bahwa ada dua pilihan yang bisa dilakukan, yaitu menggunakan cara alami atau menjalani perawatan medis.

Berikut adalah foto kondisi awal keloid yang saya alami:



Awalnya, saya memilih mencoba cara alami terlebih dahulu. Saya sempat menggunakan bawang putih yang dihaluskan lalu mengoleskannya ke area keloid. Banyak orang mengatakan cara ini bisa membantu menghilangkan keloid. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kulit di area keloid menjadi melepuh karena bawang putih ternyata cukup panas untuk kulit saya.


Setelah cara pertama gagal, saya mencoba saran dari nenek saya, yaitu mengoleskan busa dari kayu bakar ke area keloid. Sayangnya, cara ini juga tidak memberikan hasil yang saya harapkan. Keloid saya tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti.


Karena mulai kehilangan kepercayaan terhadap pengobatan alami, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba perawatan medis. Saya memilih menjalani injeksi keloid di rumah sakit yang ada di kota saya, yaitu RS Mardi Waluyo.


Sebelum menjalani suntik keloid, jujur saja saya cukup takut. Saya sering mendengar berbagai cerita dari orang lain yang mengatakan bahwa suntik keloid terasa sangat panas dan menyakitkan. Meskipun begitu, saya tetap memberanikan diri. Saat itu saya sudah merasa sangat tidak percaya diri karena memiliki keloid di tangan dan ingin segera menghilangkannya.


Akhirnya, saya menjalani suntik keloid pertama pada Februari 2020. Setelah merasakannya sendiri, ternyata prosedur tersebut tidak sesakit yang selama ini saya bayangkan. Jarum yang digunakan cukup kecil dan memang dirancang khusus untuk tindakan injeksi keloid.

Saat itu dokter menggunakan obat injeksi Flamicort, dan total biaya yang saya keluarkan untuk suntikan pertama sekitar Rp260.000. Menurut saya, jumlah tersebut cukup besar, tetapi saya tetap menjalaninya karena ingin melihat hasilnya.


Dokter juga menjelaskan bahwa keloid saya bisa mendapatkan suntikan secara rutin, bahkan hingga satu kali dalam seminggu jika diperlukan. Setelah suntikan pertama, saya mulai melihat perubahan pada keloid. Area yang disuntik menjadi lebih gelap, teksturnya lebih lunak, dan permukaannya tampak sedikit mengerut. Selain itu, rasa gatal yang sebelumnya sangat mengganggu juga hilang sepenuhnya.


Melihat perkembangan tersebut, saya merasa sangat senang dan mulai percaya diri. Saat itu saya benar-benar berharap bahwa perawatan ini akan membantu saya terbebas dari keloid.


Suntikan ke-1

Flamicort


Saya melanjutkan suntikan kedua pada minggu berikutnya. Kabar baiknya, biaya suntikan kali ini lebih murah, yaitu sekitar Rp200.000. Setelah suntikan kedua, hasilnya mulai terlihat lebih jelas. Ukuran keloid saya perlahan mengecil dan tidak setebal sebelumnya.


Selama bulan Februari 2020, saya menjalani total empat kali suntik keloid. Sayangnya, setelah itu saya harus menghentikan sementara perawatan karena pada bulan Maret 2020 pandemi COVID-19 sedang berada pada masa yang cukup mengkhawatirkan.


Demi alasan keamanan, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrol ke rumah sakit terlebih dahulu.

Memasuki bulan Juni 2020, kondisi sudah mulai memungkinkan bagi saya untuk kembali menjalani perawatan. Saya pun kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan suntik keloid. Pada periode ini, saya menjalani suntikan kelima hingga ketujuh.


Hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan. Keloid yang sebelumnya menonjol kini semakin mengecil hingga akhirnya menjadi lebih rata dengan permukaan kulit di sekitarnya. Perubahan ini membuat saya jauh lebih percaya diri dibandingkan sebelumnya.


Meskipun demikian, bekas kemerahan pada area keloid masih tetap ada. Jadi, walaupun bentuk keloidnya sudah jauh membaik dan tidak lagi menonjol, warna kulitnya belum bisa kembali sepenuhnya seperti kulit normal di sekitarnya. Namun secara keseluruhan, saya merasa sangat puas dengan hasil yang saya peroleh. Setidaknya keloid yang dulu terasa gatal, keras, dan terus membesar kini sudah jauh lebih baik dan tidak lagi mengganggu aktivitas maupun rasa percaya diri saya.


Suntikan ke-5

Suntikan ke-7

Comments

15
Sonia leman said…
Sembuh ya skrg keloidnya..
Iya sekarang udah flat rata dan keloid sudah gak tumbuh lagi
Winda said…
Pengen banget suntik keloid jg untuk keloidku yg udh lebih dari 5 tahun. :((
Lebih cepat diobati semakin bagus kak, karena khawatirnya keloid jadi semakin melebar kalau dibiarkan
wahyuuuu said…
setelah disuntik tumbuh lagi ga
wahyuuuu said…
sebelum di suntik masih nyeri ga klo disentuh
Sebelum suntik memang keloid saya rasanya gatel banget, nyeri juga tapi pas suntik pertama keloid jadi ga gatel sama sekali apalagi nyeri
Terhitung dari juli 2020 sampe sekarang. Keloid cuma jadi bekas aja, ga bertumbuh
Unknown said…
Seperjuangan kita🥲
Unknown said…
cara ngilangin itemnya gimna kak? aku juga suntik tinggal sebulan sekali udah separuh keloidnya merata. tapi bingung cara ngilangin yang itemnya gimna
Coba pake dermatix ya kak
Unknown said…
Aku punya ukuran yg mirip, bekas kecelakaan desember kemarin:( masalahnya sekali suntik mahal bgt, itu uang makanku buat seminggu;"(( anyway thanks for sharing kak
Sama-sama, Semoga cepat sembuh ya keloidnya..
Hasanmu said…
Aku baru suntik pertama kak tadi, keloidku 3x lipat dari gambar tadi ini udah 16 tahunan, semoga cepet sembuh